Dunia dan Barzakh

Oleh: Tgh Patompo Adnan Lc,MH

0
184
iustrasi
ilustrasi

Sepanjang-panjang umur seseorang akhirnya berakhir juga pada kematian. Para Nabi dan Rasul alaihimus salam telah mendahului, nenek moyang dengan berbagai prestasi dan kelakuan mereka pun telah meninggalkan dunia ini. Pejabat, rakyat, kaya, miskin, ganteng, cantik dan jelek tidak luput dari kematian, semua yang bernyawa merasakan kematian.

Kehadiran manusia didunia yang merupakan fase kedua dari kehidupannya, adalah menjadi penentu keberhasilan sesorang di alam barzakh, alam dimana ruh akan mendapatkan balasan terhadap perbuatan selama ia diberikan nikmat oleh Allah SWT. Maka sejak awal Allah SWT menegaskan bahwa kehadiran manusia diatas dunia, maksud penciptaannya adalah tiada lain selain mengabdi dan beribadah kepada Allah SWT.

Tiada Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka menyembah Aku (Allah), (Adz-dzariyat:56)

Inilah tujuan keberadaan manusia didunia sebelum masuk ke barzakh, menjadikan hidup dan matinya hanyalah untuk Allah SWT, “Sesungguhnya sholatku, ibadah qurbanku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah SWT” (Al-An’am:162).

Hidup dengan berbagai problematika dan kemeriahannya, mati dengan segala ketakutan didalamnya, diniatkan karena Allah. Ketika hidup miskin papa, bersabar menjadi penyikapan. Itu baik dan hanya orang beriman yang bisa begitu. Ketika hidup mapan sejahtera bergelimang harta, bersyukur dengan menunaikan hak harta. Itu baik dan hanya orang beriman yang bisa seperti itu. Mati setelah baca quran, mati setelah berperang membela agama, mati setelah sujud panjang dalam sholat, mati setelah berwudhu, mati setelah memberi kebaikan pada sesama, adalah kematian karena Allah dan itulah kematian terindah. Seperti kata Bilal bin Robah, jangan kau katakan: “Alangkah ruginya kami karena ditinggal oleh Bilal orang baik, tapi katakanlah sesungguhnya Bilal akan bertemu dengan tuhannya. Itulah sesungguhnya makna firman Allah swt, “Dialah Allah yang telah menciptakan hidup dan mati, agar Allah menguji siapa yang paling baik amalnya” (Al-Mulk:2).

Standar keberhasilannya adalah paling baik amalnya. Bukan kekayaan, kebagusan paras, kedudukan, jabatan dan popularitas. Tapi kesemuanya ini dijadikan supporting agar amalnya menjadi terbaik.

Ini menjadi penting untuk diperhatikan, karena waktu kita terbatas, ‘ajalun musamma (kematian sudah ditentukan waktunya) hanya saja dirahasiakan supaya kita selalu siagakan diri untuk perjuampaan dengan Allah, supaya tidak ada sesal kemudian.

Juga karena dunia ini adalah tempat berbuat dan beramal bukan untuk diberi ganjaran, sedangkan alam barzakh dan akhirat adalah tempat kita diganjar bukan tempat kita beramal. Jangan dibalik-balik. Jadi kesimpulannya gunakan dunia untuk akhirat kata Rasulullah SAW. Dunia adalah penghubung/katalis antara alam rahim dan dan barzakh dan yang menentukan selamat tidak kita diakhirat kelak, apa maksudnya?

Bahwa dahulu dialam rahim semua anak adam (yang beriman atau yang kafir hari ini) telah bersumpah bahwa Allah-lah yang menjadi tuhan yang berhak disembah (Al-A’rof:172). Lalu setelah itu anak Adam hadir didunia dalam dua keadaan iman dan kufur, setelah ajal habis, mereka kemudian masuk ke alam barzakh, dan disitulah Allah swt ingin memastikan melalui malaikat Mungkar dan Nakir, apakah perjanjian dan sumpah dialam ruh dahulu masih ada dan masih dijaga serta dipegang teguh. Karena itu yang ditanyakan pertama oleh malaikat Mungkar dan Nakir, man rabbuka artinya siapa tuhanmu, jika ruh itu dulu orangnya bisa memanfaatkan dunia dengan kesolehannya, maka ia akan menjawab ALLAHU ROBBI Allah tuhanku. Tapi jika ruh itu dulu orangnya tidak shaleh, maka sulit ia bisa menjawab, dan itulah kegagalan hidup didudnia, dan setelah itu kesusahan dan penderitaan tidak berkesudahan akan dihadapi sampai akhirat tiba.

Semoga Allah memberikan kita husnul khotimah.
wallahu a’lamu bish-showab.
(Tgh Patompo Adnan Lc, MH)