Reses hari pertama, Johan gowes dan taklukkan derasnya arus sungai

1
939
Johan Rosihan saat menyeberangi sungai di desa Marente

 

Anggota DPRD NTB dari daerah pemilihan NTB 5 (Sumbawa dan Sumbawa Barat) Johan Rosihan,ST menggelar kegiatan reses yang menantang. Ia menemui konstituennya di Desa Wisara Marente, kecamatan Alas dengan bersepeda alias gowes. Tak hanya itu, politisi PKS ini juga harus menaklukkan arus sungai yang cukup dalam.

Pengalaman yang menantang itu dituturkan Johan usai menggelar reses hari pertamanya minggu (13/3). Menurut Johan, Marente adalah sebuah Desa Wisata di Kecamatan Alas Kabupaten Sumbawa. Untuk mencapai daerah itu, Johan memulai perjalanan dari Poto Tano. Dari sana, ia bersepeda selama sekitar satu jam perjalanan. Tiba di batas Desa Marente, Johan sudah harus menemukan tantangan pertama yaitu alur jalan yang rusak. Ia pun memacu sepedanya menyusuri jalan rusak sepanjang 2,5 km tersebut. Jalan rusak itu rupanya memang belum seberapa karena selepas 2,5 km itu, Johan harus menempuh rute baru dengan jalan kaki. Tantangannya kali ini adalah berjalan kaki menuju lokasi air terjun yang menjadi salah satu ikon wisata di desa tersebut. Perjalanan ini, memakan waktu hingga sekitar dua jam lamanya. Johan juga harus menaklukkan sebuah sungai yang cukup deras, dengan kedalaman hingga sedada. Namun, perjuangan yang menantang itu rupanya terbayar juga. Di situ ada tiga air terjun yang luar biasa, ujar Johan. Salah satu air terjun yang dikunjunginya bahkan memiliki ketinggian hingga 300 m.

Johan mengakui, perjalanan untuk menelusuri seluk-beluk kehidupan dan potensi desa tempat tinggal para konstituennya memang cukup melelahkan. Belum lagi, perjalanan pulangnya sedikit lebih sulit. Di perjalanan pulang, Johan mendapati sungai yang dilaluinya ternyata banjir dan ia terpaksa harus menelusuri alur sungai untuk menemukan tempat yang aman untuk menyeberang. “Itu memerlukan tambahan waktu hingga dua jam”, imbuhnya. Setelah perjalanan itu, Johan kembali gowes menuju pulau Kenawa via Poto Tano. “Pulau Kenawa itu kan gugusan gili-gili di Tano itu. Eksotik, baik di darat maupun laut nya asik”, ujar Johan.

Ketua komisi tiga DPRD NTB ini mengambil sejumlah kesimpulan dari perjalanan resesnya tersebut. Menurutnya, desa Marente dan pulau Kenawa sama sama memperlihatkan bahwa banyak daerah dengan potensi wisata yang sangat besar ternyata masih belum berkembang karena kurangnya infrastruktur penunjang. Salah satu infrastruktur Penunjang adalah akses jalan dan jembatan untuk menuju daerah tersebut. Di Marente, Johan menegaskan Akan memperjuangkan dibangunnya jembatan penghubung yang membelah sungai di desa tersebut. “Menurut saya perlu ada jembatan penyebrangan. Kalau dari sungai itu tidak panjang kok sungainya. Tidak usah dibuat jembatan Penyebrangan kendaraan. Cukup jembatan untuk dilewati orang saja, sehingga orang itu tidak menunggu air rada untuk kemudian bisa menyebrang”, ujarnya. (Aan/SuaraNTB.com)

 

bersama Kepala Desa Marente

 

Komentar